Biaya Pelihara Anjing di Jakarta Makin Mencekik: Rp5 Juta Sebulan, Shelter Pun Kewalahan

Biaya Pelihara Anjing di Jakarta Makin Mencekik: Rp5 Juta Sebulan, Shelter Pun Kewalahan

Gue lagi duduk di kasir klinik hewan, dompet udah tipis, dan si golden retriever di samping gue cuma bisa garuk-garuk lantai sambil nunggu vaksin. Eh, dokternya bilang, “Pak, yang ini plus obat cacing ya.” Dalam hati: Ya ampun, satu obat cacing aja bisa setara makan siang gue seminggu. Tapi ya gimana, udah tanggung jawab. Namanya juga peliharaan.

Nah, kalau lo penggemar anjing di Jakarta, pasti paham rasanya. Biaya pelihara anjing di Jakarta sekarang bukan cuma soal beli makanan atau sesekali grooming. Angkanya udah level “coba hitung ulang lagi, jangan-jangan salah transfer.” Satu orang pemilik anjing di Tangerang Selatan, Jonathan, bilang dia bisa keluar Rp5 juta sampai Rp7 juta per bulan cuma untuk makan dan grooming empat anjingnya: dua golden retriever, satu Akita, dan satu anjing rescue ras Karelo-Finnish Laika. Empat anjing, lima sampai tujuh juta. Artinya, satu anjing saja bisa “menghabiskan” sekitar Rp1,25 juta sampai Rp1,75 juta per bulan—dan itu belum termasuk vet darurat, vaksin tahunan, atau steril.

Sekarang bandingin dengan UMP DKI Jakarta 2026 yang resmi ditetapkan Rp5.729.876. Satu anjing dengan biaya perawatan kelas menengah bisa setara seperempat sampai sepertiga gaji minimum. Kalau lo punya dua atau tiga anjing? Ya selamat, finansial lo sedang diuji oleh makhluk berbulu yang tidak tahu apa-apa soal inflasi.

“Sayang, tapi dompet nggak bisa bohong”

Di sinilah paradoksnya. Di satu sisi, anjing itu simbol kasih sayang. Banyak yang menganggapnya keluarga sendiri, bukan sekadar hewan. Di sisi lain, memelihara anjing di Jakarta makin mirip memelihara kebiasaan gaya hidup yang mahal. Lo mungkin nggak sadar, tapi ada tekanan sosial halus: punya anjing ras tertentu terlihat “keren” di Instagram, bikin feed lo estetik, dan bikin lo terasa lebih manusiawi. Tapi begitu tagihan vet datang, baru deh kebuka tuh realita.

Seorang pemilik dua Chow Chow, Bella, bahkan mengaku biaya perawatan dua anjingnya bisa mencapai Rp10 juta sampai Rp15 juta per bulan. Itu belum termasuk salon khusus yang harus dipanggil ke rumah karena bulu Chow Chow nggak bisa sembarangan. Gila nggak sih? Rp15 juta itu udah kayak cicilan mobil. Tapi lagi-lagi, ini pilihan. Dan yang paling sedih: nggak semua orang yang memilih punya fondasi finansial yang cukup.

Shelter: tempat pembuangan yang sebenarnya bukan solusi

Nah, kalau lo pikir solusinya adalah “ya udah, kalau nggak mampu, buang ke shelter,” lo salah besar. Pejaten Shelter di Jakarta Selatan mencatat rata-rata satu laporan anjing dibuang per hari. Dalam setahun, bisa 365 laporan. Sebagian besar dibuang di jalan tol—tempat yang jelas bukan tempat tinggal anjing. Dokter Susana Somali dari Pejaten Shelter bahkan sampai mengimbau: “Tolong jangan buang anjing, cari solusi lain”.

Tapi masalahnya, solusi lain itu apa? Adopsi di Pejaten Shelter cuma sekitar satu ekor per bulan. Satu berbanding tiga puluh. Bahkan menurut cerita pengelola, perbandingan hewan yang masuk dan yang diadopsi bisa sampai satu banding seratus. Artinya, shelter bukan lagi tempat transit. Shelter sudah jadi sanctuary—rumah permanen bagi anjing-anjing yang kemungkinan besar nggak akan pernah diadopsi lagi. Dan itu artinya beban biaya operasional makin berat. Antara 2023 sampai akhir 2024 saja, Pejaten Shelter menghabiskan lebih dari Rp2 miliar di berbagai klinik untuk merawat kesehatan hewan-hewan di sana.

Lo bisa bayangin: pemilik menyerah karena biaya, shelter kewalahan karena lonjakan masuk, sementara adopsi jalan tersendat. Rantai ini bukan cuma soal ekonomi. Ini soal sistem yang nggak pernah benar-benar menyiapkan orang sebelum memelihara.

Yang sering dilupakan: keputusan sebelum adopsi

Gue bukan mau menghakimi siapa pun. Tapi ada satu hal yang sering banget dilewatin: orang memelihara anjing karena rasa sayang di awal, tapi nggak menghitung konsekuensi finansial jangka panjang. Anjing hidup 10 sampai 15 tahun. Artinya, komitmen lo bukan komitmen sebulan dua bulan. Ini komitmen satu dekade lebih. Kalau lo beli atau adopsi anjing hari ini, lo harus siap dengan kemungkinan biaya vet naik, makanan naik, dan kebutuhan lo sendiri berubah.

Jonathan, pemilik empat anjing tadi, bilang sesuatu yang jujur: “Adopsi anjing itu bukan impuls. Ini komitmen gaya hidup 10 sampai 15 tahun yang menuntut waktu, kasih sayang, dan uang. Orang mungkin nggak setuju, tapi lo butuh anggaran dan rencana sebelum bawa hewan peliharaan ke rumah”.

Kalimat itu sederhana. Tapi kalau semua calon pemilik anjing di Jakarta membaca itu sebelum ke petshop, mungkin angka 365 laporan per tahun di Pejaten Shelter nggak akan segitu brutal.

Tips praktis yang nggak bikim lo merasa miskin

Oke, gue nggak mau cuma bikin lo pusing. Kalau lo tetap mau memelihara anjing di Jakarta dengan kondisi finansial yang realistis, ada beberapa hal yang bisa lo lakuin tanpa mengorbankan kesejahteraan anjing lo:

Pertama, hitung total biaya tahunan, bukan bulanan. Makanan bulanan mungkin kelihatan manageable. Tapi coba jumlahkan: vaksin tahunan, obat cacing tiap 3 bulan, grooming (kalau perlu), steril (sekali seumur hidup), dan dana darurat vet minimal Rp3 juta. Baru bagi 12. Itu biaya bulanan “sesungguhnya.”

Kedua, pertimbangkan adopsi, bukan beli. Anjing rescue sering kali sudah divaksin dan disteril oleh shelter. Lo nggak cuma menyelamatkan satu hidup, tapi juga mengurangi beban shelter. Tapi tetap seleksi: pastikan shelter atau rescue group punya track record jelas.

Ketiga, jangan malu pakai klinik hewan pemerintah atau subsidi. Beberapa puskesmas hewan di Jakarta punya layanan vaksin dan steril dengan harga jauh lebih murah. Nggak semua orang tahu ini.

Keempat, kalau lo mulai merasa berat, cari bantuan sebelum menyerah. Pejaten Shelter punya program bantuan sterilisasi dan vaksin untuk warga yang masih ingin memelihara tapi khawatir biaya berkembang biak. Kadang yang dibutuhkan bukan “buang anjing,” tapi solusi yang lebih murah untuk masalah spesifik.

Kesalahan umum yang bikin lo (dan anjing lo) menderita

Kesalahan paling umum tentu saja: membeli atau mengadopsi anjing tanpa dana darurat vet. Banyak yang siap dengan biaya makanan bulanan, tapi panik saat anjing demam atau makan benda asing. Vet darurat di Jakarta bisa jutaan dalam semalam.

Kesalahan kedua: menganggap grooming sebagai kemewahan, bukan kebutuhan. Untuk ras tertentu, bulu yang nggak dirawat bisa menyebabkan infeksi kulit. Tapi solusinya bukan selalu salon mahal—lo bisa belajar grooming dasar sendiri.

Kesalahan ketiga, dan ini yang paling menyakitkan: membuang anjing ketika biaya sudah nggak tertahankan. Selain kejam, ini juga ilegal dan menambah beban shelter yang sudah kewalahan. Kalau benar-benar terjepit, hubungi shelter atau komunitas rescue untuk mencari solusi rehoming yang bertanggung jawab.


Jadi, balik ke judul di atas: biaya pelihara anjing di Jakarta memang makin mencekik. Tapi yang lebih mencekik sebenarnya adalah ekspektasi kita sendiri. Kita ingin punya anjing yang lucu, sehat, dan Instagramable, tanpa benar-benar menghitung bahwa di balik setiap foto ada rupiah yang harus keluar. Shelter kewalahan bukan karena anjingnya banyak, tapi karena kita sebagai manusia sering lupa: kasih sayang itu nggak cukup. Perlu rencana. Perlu uang. Dan yang paling penting, perlu kejujuran pada diri sendiri sebelum membawa makhluk hidup ke rumah.

Kalau lo saat ini sedang mikir mau pelihara anjing di Jakarta, tanya dulu: Gue siap nggak secara finansial dan emosional selama 10 tahun ke depan? Kalau jawabannya ragu, mungkin lebih baik lo jadi relawan di shelter dulu. Anjingnya tetap senang, dompet lo tetap aman, dan lo tetap bisa pulang tanpa tagihan vet.